Buku "Tidak Ada New York Hari Ini" adalah kumpulan puisi dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2 dan terinspirasi oleh skenario dari film tersebut.
Puisi karangan M. Aan Mansyur ini merupakan puisi yang dibacakan Rangga diperankan oleh my future husband Nicholas Saputra. Seperti yang kita tahu film Ada Apa Dengan Cinta adalah film karya sutradra Rudi Sudjarwo yang diproduksi oleh Miles Production. Film pertamanya release pada tahun 2001 dan menjadi titik bangkitnya perfilman Indonesia yang sempat mati suri. Ada Apa Dengan Cinta menjadi film terlaris pada beberapa periode tahun sebelum munculnya film-film yang lain.
Sepertinya tidak usah lah menceritakan jalan cerita dari film ini, karena semua orang pasti sudah tahu bagaimana kisah cinta fenomenal Rangga-Cinta. Bahkan setiap dialognya pun pasti hapal. Terutama angkatan 90an yang masa remajanya di awal tahun milenium. Kita tahu yaa Rangga suka buat puisi dan banyak puisinya yang menjadi hits. Salah satunya
"pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh"
Setelah 14 tahun produser film AADC memproduksi kembali sequel film tersebut untuk menjawab pertanyaan fans loyal AADC tentang kisah cinta antara Rangga dan aku *Read: Dian Sastro. Kota New York dijadikan sebagai tempat lokasi bersatunya kisah cinta pasangan fenomenal ini di film. Mungkin karena itu judul kumpulan puisi ini adalah Tidak Ada New York Hari Ini. Habisan Rangga sembunyi di New York ratusan purnama, wajar lah banyak puisinya. Itu kalau di film yaa... tapi puisi-puisi ini bukan ciptaan Nicholas Saputra. Dia bisanya travelling dan mandikan gajah di Tangkahan.
Ada 33 puisi yang diciptakan oleh Aan Mansyur dalam buku ini. Buku ini juga tidak hanya memberikan kumpulan puisi tetapi juga ada kumpulan foto yang di capture oleh Mo Riza
Dalam tulisan kali ini aku akan menulis ulang puisi karya M. Aan Mansyur walau tidak semua tapi aku akan pilih beberapa puisi yang menurut ku bagus.
TIDAK ADA NEW YORK HARI INI
Tidak ada New York hari ini. Tidak ada New York kemarin. Aku sendiri dan tidak berada di sini. Semua orang adalah orang lain.
Bahasa ibu adalah kamar tidurku. Kupeluk tubuh sendiri. Dan cinta-kau tak ingin aku mematikan mata lampu. Jendela terbuka dan masa lampau memasuki sebagian angin. Meriang. Meriang. Aku meriang. Kau yang panas di kening. Kau yang dingin di kenang.
Hari ini tidak pernah ada. Kemarin tidak nyata. Aku sendiri dan tidak menulis puisi ini. Semua kata tubuh mati semata.
Puisi adalah museum yang lenggang. Masa remaja dan negeri jauh. Jatuh dan patah. Foto-foto hitam putih. Aroma kemeja ayah dan senyum perempuan yang tidak membiarkanku merindukan senyum lain. Tidak ada pengunjung. Tidak ada pengunjung. Di balik jendela, langit sedang mendung.
Tidak ada puisi hari ini. Tidak ada puisi kemarin. Aku menghapus seluruh kata sebelum sempat menuliskannya.
KETIKA ADA YANG BERTANYA TENTANG CINTA
Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta, kau melihat langit membentang lapang. Menyerahkan diri untuk dinikmati, tapi menolak untuk dimiliki.
Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta, aku melihat nasib manusia. Terkutuk hidup di bumi bersama jangkauan lengan mereka yang pendek dan kemauan mereka yang panjang.
Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta, kau bayangkan aku seekor burung kecil yang murung. Bersusah payah terbang mencari tempat sembunyi dari mata peluru para pemburu.
Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta, aku bayangkan kau satu-satunya pohon yang tersisa. Kau kesepian dan mematahkan cabang-cabang sendiri.
Ketika ada yang bertanya tentang cinta, apakah sungguh yang dibutuhkan adalah kemewahan kata-kata atau cukup ketidaksempurnaan kita?
DI HALAMAN BELAKANG PUISI INI
Puisi adalah pesta. Seperti ulang tahun atau pernikahan, tetapi benci perayaan. Ada beranda di halaman belakang buat setiap tamu yang datang. Aku biarkan orang-orang berbincang dan bersulang dengan diri sendiri.
Aku mungkin tidak berada di sana aku sedang duduk menemani diriku di taman kota atau perpustakaan atau terjebak pesta berbeda dalam puisi yang belum dituliskan.
Aku mengundang kau juga. Datanglah Masuklah. Tak ada kamera tersembunyi yang mengawasinya seperti di tiap sudut kota. Di puisiku hanya kau temukan tubuhmu jatuh ke lengan seseorang. Dia menciummu hingga kau lupa kau pernah merasa ditinggalkan.
Kau boleh membayangkan dia adalah aku atau siapa pun yang kau inginkan.
Demikian lah review book: Tidak Ada New York Hari Ini. Nantikan review buku-buku yang lainnya. Sekian dari Cinta yang sedang menunggu Rangga

